Konverter koordinat UTM ke lintang/bujur (dan sebaliknya)
Mengonversi UTM ↔ lintang/bujur pada WGS 84 dan datum yang memakai elipsoid yang sama (SRGI2013, DGN95, ITRF, NAD83, ETRS89…), satu titik atau seluruh daftar yang ditempel dari Excel. Juga menampilkan faktor skala dan konvergensi meridian. Semua dihitung di peramban Anda.
Menerima E N, nama E N atau E N tinggi, dipisahkan spasi, tab atau titik koma (tempel dari Excel juga bisa). Jika N ditulis sebelum E, kami akan mengenalinya.
Derajat desimal (dengan titik atau koma) atau derajat/menit/detik, dengan atau tanpa simbol. Tanpa huruf, nilai positif berarti Utara/Timur dan negatif Selatan/Barat (Jakarta: −6.17, 106.83). Pilih zona secara manual untuk bekerja di zona diperluas (lokasi di perbatasan dua zona). Anda juga bisa mengeklik peta.
Hasil
Ketik atau tempel koordinat di atas. Hasilnya langsung muncul di sini.
Cara kerja konversi UTM
Proyeksi UTM (Universal Transverse Mercator) membagi Bumi menjadi 60 zona selebar 6° bujur, dinomori ke arah timur mulai 180°BB. Indonesia berada di zona 46 sampai 54. Di setiap zona, meridian sentral (MS) memiliki E = 500 000 m dan faktor skala 0.9996; di belahan bumi selatan, ekuator bernilai N = 10 000 000 m (false northing).
Konverter ini memakai elipsoid GRS80 (dasar WGS 84, SRGI2013, DGN95 dan ITRF — perbedaannya di proyeksi jauh di bawah satu milimeter) dan deret Krüger orde ke-6 yang dipakai perangkat lunak geodesi, dengan ketelitian lebih baik dari satu milimeter di dalam zona. Karena itu alat ini juga bisa dipakai di zona diperluas, beberapa derajat di luar zona aslinya.
Faktor skala (k): seberapa lebih panjang atau lebih pendek suatu jarak di bidang UTM dibandingkan jarak yang sama di elipsoid. Konvergensi meridian (γ): sudut antara Utara grid (UTM) dan Utara sebenarnya di titik tersebut; azimut sebenarnya ≈ azimut grid + γ.
Tanya jawab
Bagaimana cara mengetahui zona UTM suatu tempat?
Zona = bagian bulat dari (bujur + 180) ÷ 6, ditambah 1. Contoh: bujur 106.83° (Jakarta) → 286.83 ÷ 6 = 47.8 → zona 48 (MS 105°). Pada mode “Lintang/Bujur → UTM” dengan zona otomatis, kalkulator melakukannya untuk Anda. Dari barat ke timur Indonesia: 46 (Aceh), 47 (Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau), 48 (Sumatra Selatan, Lampung, Jakarta, Jawa Barat), 49 (Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur), 50 (Bali, NTB, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan), 51 dan 52 (Sulawesi, NTT, Maluku), 53 dan 54 (Papua).
Apakah WGS 84, SRGI2013 dan DGN95 sama?
Ketiganya memakai elipsoid yang (secara praktis) sama, sehingga rumus UTM-nya identik. Datumnya sendiri tidak sama: SRGI2013 (sistem referensi nasional saat ini) dan DGN95 terikat pada epoch tertentu, dan karena pergerakan lempeng koordinatnya bisa berbeda beberapa sentimeter hingga desimeter dari WGS 84 saat ini. Alat ini mengonversi proyeksi, bukan datum: hasilnya tetap dalam datum yang Anda masukkan. Datum lama seperti ID74 atau Batavia memakai elipsoid lain dan perlu transformasi datum terlebih dahulu.
Apa itu zona diperluas?
Jika bidang tanah atau proyek berada di perbatasan dua zona, biasanya semua titik dihitung dalam satu zona saja, meskipun sebagian titik berada di luar zona tersebut, agar pengukuran tidak terpecah menjadi dua sistem. Cukup pilih zonanya pada mode “Lintang/Bujur → UTM”. Makin jauh dari meridian sentral, makin besar faktor skalanya (distorsinya).
Apakah northing di belahan bumi selatan dimulai dari 10 000 000 m?
Ya. Di belahan bumi selatan ditambahkan “false northing” 10 000 000 m agar N tidak pernah negatif. Ekuator melintasi Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku: titik di utara ekuator (mis. Banda Aceh, Medan, Manado) memakai belahan Utara (zona “N”, mis. 47N), tanpa tambahan tersebut. Selalu periksa belahan bumi jika titik dekat ekuator.
Bisakah saya menempel daftar dari Excel?
Bisa. Salin kolomnya (nama, E, N atau lintang, bujur) lalu tempel di kotak isian. Setiap baris menjadi satu titik. Hasilnya berupa tabel yang bisa disalin kembali ke Excel atau diunduh sebagai CSV.
